Jean Marc Bosman adalah nama salah satu pemain gelandang yang kurang beruntung diera 90 an, dia memulai karier didunia sepakbola bersama klub Standart de Liege diliga Belgium ketika ditahun 1983, kemudian ditahun 1988 dia direkrut klub RFC de Liege yang saat itu adalah klub yang berlaga didivisi kelas 2 dan kemudian dia juga pernah bermain bersama klub US Dunkerque diliga Francis kelas 2 juga.
Dia adalah sosok pemain pas-pasan tanpa prestasi gemilang sehingga dirinya tidak pernah merasakan dilirik klub-klub besar berkelas dunia, namun kisah Bosman sangat menarik dan tak disangka berasal dari perjuangannyalah kini para generasi penerus yang bergelut dan berprofesi sebagai pemain professional menikmati hasil perjuangannya.
Berawal dari kasus yang terjadi antara Bosman pria kelahiran Belgium 52 tahun lalu itu dengan klub yang memilikinya kala itu RFC Liege, diakhir masa kontraknya Liege tak mau rugi dan enggan membiarkannya pergi begitu saja, saat itu belum ada peraturan tertulis yang khusus membahas permasalahan akhir kontrak ini, sehingga sepenuhnya Liege masih memiliki hak kepemilikan atas diri gelandangnya itu.
Sebagai keputusan klub kala itu Liege memberikan 2 opsi untuk dipertimbangkan Bosman, pilihan pertama mereka rela melepas Bosman jika saja US Dunkerque berniat menebusnya dengan mahar sebesar £ 250 ribu dimana mereka masih ingin mengambil keuntungan dari transaksi ini, lantas pilihan kedua Bosman harus menandatangani kontrak kerja baru yang mereka sodorkan dengan kondisi penurunan upah sebesar 75 persen dari apa yang diperolehnya dimusim-musim terdahulu.
Karena keterikatan kepemilikan Bosman dihadapkan dengan pilihan yang tidak mungkin dia ambil, US Dunkerque tentu saja tidak ingin menghabiskan dana untuk seorang pemain yang tak memiliki prestasi khusus seperti Bosman, sedangkan bagi Bosman menjalankan kontrak baru dengan penurunan gaji 75 persen tentu saja dia tidak mau menandatangani perjanjian kontrak baru tersebut.
Disaat itu Bosman menghadapi masalah besar karena dia dianggap sudah melanggar kesepakatan kerja dengan Liege dan hukuman dari federasi yang membawahi liga di Belgia pun siap memberikan sanksi kepadanya, dalam keadaan terdesak dirinya yang merasakan ketidak adilan memutuskan untuk mengangkat kasus ini kemeja hijau dan menggugat klubnya saatitu RFC Liege ke pengadilan hukum di Luxemburg.
“Tentu saya masih mempunyai hak sebagai seorang pekerja professional dalam hal ini sepakbola, peraturan yang mereka buat sangattidak adil dan mengekang hak seorang pemain dalam kondisi seperti saya, tentu saja saya tidak mau membuat waktu saya dengan menerima kontrak baru yang sangat merugikan saya, dilainpihak mereka mengekang kebebasan saya untuk pergi dan berkerja dengan klub lain” Bosman menerangkan.
“Saya memiliki hak sama dengan warga Negara lainnya di Eropa ini, saya berhak menggugat jika merasa diperlakukan tidak senonoh, sebagai seorang atlit saya seharusnya dilindungi undang-undang kebebasan untuk bermain dimana klub yang saya suka terlebih ketika kontrak kerja sudah berakhir, ini adalah sebuah pekerjaan dan kami bukan budak ini bukan lagi zaman penjajahan” imbuh Bosman.
Proses penggugatanpun akhirnya berjalan dan menyita waktu 5 tahun hingga pada akhirnya Bosman memenangkan gugatannya, pihak pengadilan pada akhirnya mengharuskan klub Liege untuk mengganti kerugian sebesar 1 juta USD kepada Bosman sebagai kompensasi dan membebaskannya dari ikatan kepemilikan Liege atas dirinya.
‘Peraturan Bosman’ akhirnya pun lahir semenjak itu, nama Bosman diabadikan sebagai jasa perjuangannya melahirkan sebuah peraturan baru mengenai status pemain yang sudah habis masa kontrak yang sebelumnya tidak jelas, dimana disebutkan bila masa kontrak kerja sudah berakhir pemain bersangkutan bebas untuk pergi keklub manapun tanpa dibebani biaya apapun, dan peraturan itu berlaku hingga saat ini dimana juga disebut masa bebas transfer.
Sebelum peraturan Bosman berlaku sebagai klub pemilik pemain tertentu jika masa kerja berakhir masih bisa mengharapkan untuk mendapatkan biaya ‘ganti rugi’ jika ada klub yang berminat atas pemain tersebut, kini peraturan sudah ditegakkan dimana peraturan Bosman atau yang juga dikenal dengan peraturan bebas trabsfer sudah diberlakukan.
Pemain bersangkutan bebas bernegosiasi dengan klub yang menginginkan jasa mereka ketika dalam kondisi kontrak kerja dengan klubnya tersisa 6 bulan, dan jika kesepakatan didapat dia dapat hengkang tanpa dibebani keharusan membayar sepeserpun kepada klub yang sedang dibelanya saat terakhir, tak disangka jasa besar Jean Marc Bosman memberi efek positive bagi seluruh atlit sepak bola hingga saat ini.
Sebagai ahli hukum khusus dibidang olahraga Daniel Geey menyatakan kalau peraturan Bosman adalah sebuah peraturan yang sangat fair didunia olahraga khususnya didaratan Eropa, tak ada lagi hak pemain dirampas dan diperbudak dengan diterapkannya peraturan ini.
“Ini adalah sebuah situasi yang benar-benar adil untuk pemain ataupun untuk klub yang ingin mempekerjakan pemain tertentu yang sudah habis masa kontraknya atau dalam bahasa khususnya dalam kondisi ‘bebas transfer’, mereka bisa mendapatkan pemain berkelas tanpa harus menghabiskan anggaran saya kira itu sangat sangat bagus” komen Geey.
Tercatat dalam sejarah nama Edgar Davids adalah pemain pertama yang merasakan perjuangan dari Bosman saat dia memilih untuk bergabung dengan Ac Milan diakhir masa kontraknya dengan Ajax Amsterdam ditahun 1996, setelahnya nama Steve Mc Manaman, Cambiasso, Campbell, Michael Ballack, Robert Lewandowski, Andrea Pirlo hingga Zlatan Ibrahimovic menyusul dengan kondisi yang sama.
Banyak pro dan kontra lahir sejak peraturan ini berlaku, bagi pemain mungkin ini adalah sebuah situasi yang sangat nyaman untuk mereka, namun tentunya hal ini berdampak negative kepada klub-klub kecil yang bermasalah dengan permasalahan financial.
Klub-klub miskin materi itu terpaksa tak dapat menahan pemain berbakat mereka yang dilirik klub peminat, kadang mereka dihadapkan dengan kondisi melepas dengan harga tak sesuai ketika masa kontrak pemain mereka sudah mendekati masa kadaluarsa dari pada mereka harus gigit jari membiarkan pemain mereka pergi begitu saja.
Namun harus diakui Bosman adalah pahlawan bagi para pemain professional sepakbola saat ini, banyak manfaat positive terlahirkan dari peraturan ini dan tak berlebih jika Bosman adalah sosok yang harus menerima kata terima kasih dari semua pemain sepakbola saat ini.
“Saya tidak menyangka apa yang saya perjuangkan membawa efek luar biasa yang mana bukan berguna bagi saya saja, saya sangat bangga dengan lahirnya peraturan baru ini yang secara tidak langsung juga menyelamatkan hak banyak orang, tak banyak saya hanya inginkan orang-orang merasa bersyukur dan berterima kasih dan selalu ingat nama saya” kelakarnya menutup pembicaraan.
No comments:
Post a Comment