Signal Iduna Park – Disaat yang sama ketika dimusim silam Die Borussen yang ketika itu dipimpin Jurgen Klopp terpuruk dizona degrarasi, mereka pun terpaksa menikmati liburan Natal dan Tahun Baru ketika itu dengan perasaan tidak nyaman dan tidak menikmati masa liburan, namun dimusim ini perbedaan menyolok terlihat meliputi klub berjersey Kuning Hitam ini dimana mereka bisa lepas menikmati masa liburan pergantian tahun dengan sukacita ketika mereka menempati posisi runner-up Bundesliga saat ini.
Datangnya Thomas Tuchel membawa perubahan drastis namun bukan berarti kalau Jurgen Klopp tidak layak memimpin Dortmund, Tuchel datang meneruskan barisan warisan Klopp dan berhasil memperlihatkan perubahan signifikan untuk klub, dimusim silam Dortmund finish musim dengan menempati posisi ketujuh tangga klasemen Bundesliga usai terpuruk di zona degrarasi diparuh musim kompetisi.
Dortmund yang berada diluar zona persaingan Liga Eropa pun cukup beruntung ketika sang juara DFB Pokal ketika itu Wolfburg secara otomatis mendapat jatah di Liga Champion dengan sendirinya jatah mereka jatuh kepada tim yang terdekat dimana adalah Dortmund, musim lalu adalah musim terburuknya Dortmund dibawah kepemimpinan Jurgen Klopp itulah sebabnya sang pelatihpun mengundurkan diri yang sudah diikrarnya dipertengahan musim kala Dortmund terpuruk dizona degrarasi.
Musim lalu Dortmund secara keseluruhan di Bundesliga hanya mencatat 13 kali kemenangan dengan 14 kali kekalahan dan 7 kali pertandingan berakhir imbang dari 34 pekan pertandingan sepanjang musim kompetisi 2014-15, total 47 goal adalah hasil yang dicatat diakhir musim kompetisi ketika Klopp mengundurkan diri.
Kini diera Thomas Tuchel sepanjang 17 pekan pertandingan berlalu atau pas setengah musim kompetisi bergulir Thomas Tuchel sudah berhasil mengumpulkan 47 goal sebanyak yang dihasilkan armada klopp sepanjang musim silam, bukan itu saja Tuchel juga berhasil memperlihatkan ketajaman lebih dari pada pemimpin klasemen saat ini Bayern Munchen (46 goal) dan membuat Dortmund tercatat sebagai klub paling produktif sepanjang paro musim ini di Bundesliga.
Jika total kemenangan yang dipersembahkan Jurgen Klopp dimusim terakhirnya bersama Dortmund adalah 13 kemenangan maka Tuchel dipertengahan musim ini saja sudah mencatat 12 kemenangan untuk Die Schwargelben dengan masih menyisakan 17 laga pertandingan hingga kefinish kompetisi nanti, Dortmund berada ditangan seorang pelatih yang tepat saat ini ketika perubahan dibutuhkan.
Dengan perubahan pelatih dimusim ini tercatat 10 nama pemain peninggalan Klopp yang berlalu, mereka adalah Jeremy Dudziak, Kevin Kampl, Kevin Grosskreutz, Mitchell Langerak, Milos Jojic, Oliver Lirch, Zlatan Alomerovic dijual klub sementara Ciro Immobile, Jakub Blaszczykowski menjalankan musim peminjaman ke klub lain dan Sebastian Kehl gantung sepatu.
Sementara Thomas Tuchel merekrut 5 pemain baru untuk dijadikan armada pengganti kesepuluh pemain yang berlalu, Julian Weigl, Roman Burki adalah dua nama pemain kepercayaan yang dijadikan pilar oleh Tuchel, kemudian Adnan Januzaj, Joo-Ho Park, Gonzalo Castro tiga nama pemain baru lainnya juga menjadi pemain yang tak kalah penting bagi Tuchel untuk dipasangkan dalam squad olahannya, namun ketiganya lebih banyak dijadikan rotasi dalam strategi formasi Thomas Tuchel.
Roman Burki dipercaya mantan pelatih FSV Mainz 05 untuk menjadi kiper utama menggeser kiper terdahulu Roman Weidenfeller, lantas Julian Weigl gelandang yang baru berusia 20 tahun ini diduetkan dengan Ilkay Gundogan ditengah lapangan untuk menjadi penyulai bola, mantan gelandang 1860 Munich ini mampu berkolaborasi dan bermain apik ditengah lapangan mengimbangi Ilkay Gundogan.
Tercatat dia pernah melahirkan 189 sentuhan dalam sebuah pertandingan terbaik yang diperlihatkannya ketika menjadi bagian dari Dortmund kala melawan Eintracht Frankfurt di pekan ke 16 akhir pekan lalu, sentuhan ini mencatat record tersendiri untuk Weigl sebagai sentuhan terbanyak sepanjang sejarah dalam sebuah pertandingan bahkan melebihi torehan seorang senior seperti Xabi Alonso sekalipun.
Sentuhan lain yang diperlihatkan Thomas Tuchel terhadap squad Die Borussen adalah menggeser posisi Matthias Ginter dari gelandang ke posisi bertahan sayap kanan, bukan itu saja kemampuan Tuchel membaca kemampuan personilnya dan mengoptimalkan posisinya membawa dampak signifikan salah satu yang paling terlihat adalah polesannya kepada Pierre-Emerick Aubameyang.
Striker berusia 26 tahun kelahiran Francis dan berkebangsaan Gabon ini menjadi bomber paling sadis diBundesliga saat ini, dalam menjalankan 23 pertandingan disegala ajang kompetisi dibawah panji Dortmund Aubameyang sudah mengantongi 24 goal dan menjadikannya sebagai top scorer sementara Bundesliga saat ini, perubahan dalam hal penguasaan bola dan kedisiplinan semakin menjadi jelas untuk armada Dortmund edisi Tuchel saat ini.
Yang menonjol dari gaya kepemimpinan baru pelatih berusia 42 tahun ini adalah dia tidak merubah total semua kebijakan peninggalan pelatih terdahulu Jurgen Klopp, segi positive ajaran Jurgen Klopp seperti penerapan serangan kilat dan juga istilah Gegen pressing tetap dipertahankannya dan diberlakukan, sementara dia menambah polesan dengan hal penguasaan bola kemudian kedisiplinan posisi dalam barisan arahannya ini.
Dengan kombinasi gaya ini kini Dortmund mampu bermain menghadapi segala gaya permainan lawan yang diterapkan, mereka tak bermasalah ketika menghadapi lawan yang bermain full defend, dia mampu menciptakan posisi siap serang bagi armadanya ketika menghadapi rapatnya barisan pertahanan lawan, permainan tidak baku dan dapat berubah setiap saat dalam menjalankan sebuah laga pertandingan.
Hal inilah yang membuat Dortmund meraih hasil saat ini, mereka dinamis dalam lapangan pertandingan dan memanfaatkan segala situasi yang dihadapi dalam pertandingan, dengan menjaga posisi setiap pemain Dortmund selalu tampil mendominasi pengontrolan bola, dengan demikian otomatis peluang demi peluang tercipta karenanya.
Jelas terlihat perbedaan gaya permainan Dortmund saat ini dibawa arahan Thomas Tuchel dengan ketika mereka bermain dibawah pengawasan Jurgen Klopp yang terlihat lebih gampang dibaca, Tuchel menciptakan permainan dinamis yang sulit dibaca oleh lawan, squad yang dibangun Tuchel selalu memanfaatkan luasnya lapangan untuk membangun serangan, gagal dari sisi kanan mereka mencoba darisisi kiri jika sayap tidak berfungsi mereka mencoba dari tengah dan begitu seterusnya.
Namun layaknya sebuah strategi tidak selalu sempurna begitu juga dengan strategi yang dibangun pelatih kelahiran kota Krumbach Jerman Barat ini, kedua pemain sayap dibarisan pertahanan kerap keasyikan dan terlena ketika mereka membantu dalam membangun sebuah serangan, posisi mereka sering kali ditinggal dan ini mengundang celah bagi lawan mereka untuk menusuk dari sisi sayap tersebut.
Beberapa contoh kekalahan telak seperti ketika dibekuk 5-1 oleh Bayern Munchen adalah bukti kelemahan system yang dibangun Tuchel, mereka lebih mengutamakan prihal menyerang dengan garis pertahanan sedikit lebih keluar dari batasannya, jika pelatih lawan tidak jeli maka barisan Tuchel akan aman-aman saja, akan tetapi jika pelatih lawan sekelas Pep Guardiola maka resiko kebobolan tak dapat dihindarkan.
Saat ini Dortmund berada diposisi runner-up dengan berselisih 8 point dari pasukan Pep Guardiola yang memimpin di persaingan Bundesliga, masih separuh jalan menuju ke finish adalah masih terbuka kesempatan untuk bersaing meraih title dikompetisi musim ini walaupun tampaknya akan susah bersaing dengan Bayern Munchen yang sangat solid disegala lini barisan mereka.
Untuk menjaga asa menjuarai Bundesliga tentu saja Dortmund harus menjaga konsistensi kemenangan mereka disetiap laga tersisa, karena mengharapkan Die Roten tergelincir disisa pertandingan yang sama adalah sama sulitnya dengan mengharapkan duit jatuh dari langit, tidak mustahil Dortmund berpeluang menjuarai Bundesliga tapi disaat bersamaan juga tidak gampang menyalip Bayern Munchen yang sudah unggul 8 point saat ini.
No comments:
Post a Comment